Dan ku turunkan kain ke
dada ku, ku turunkan dia supaya ikut
tunduk pandanganku. Ku turunkan kain dari ubun ubun menyungkup rambutku, supaya
terlindung dan selamat aku dari terik matahari ketika kerontang, pedih musim
ketika dingin, serta geraian panas mata dan tangan orang orang berhati lemah
yang berkeliaran sepanjang jalan. Ku turunkan kain sekujur tubuh ku supaya
terjaga aku, tidak saja dari gangguan orang orang yang ku temui tetapi juga
dari godaan dalam diriku yang ingin bertingkah. Kain ini menyelamatkan aku
serta orang orang di sekililingku dari daya tarik ke perempuanku yang mungkin
menipu dan kain panjang ini menjadi kulitku, diriku, identitasku. Tidak lagi
bisa kulepas dia apalagi ku biarkan dia direnggut dari diriku, dengan kain ini
aku berkata tidak kepada masa lalu yang lemah kepada hubungan sosial yang
eksploitatif serta struktur ekonomi sosial dan politikyang tak adil,
memperbodoh manusia dan menghancurkan dirinya sendiri.
Ku turunkan kain menutupi
tubuhku supaya aku bisa mengucapkan salam kepada dunia bukan hanya dengan mulut
tetapi juga dengan seluruh diri berbusana muslimah sudah nyata tersurat sebagai
ketentuan yang harus di jalankan oleh seorang perempuan pemeluk islam detail
bentuk bisa di tafsirkan secara beragam kitab yang jelas ia harus menutup
keseluruhan penampakan tubuh perempuan kecuali wajah dan tangan.
Di indonesia pengguna
busana muslimah yang demikian hanya remaja putri penghuni pesantren atau istri
para kiyai, perempuan kebanyakan lain nya datang ke pengajian menyelempengkan
selendang di bahu nya hanya untuk di pakai menyamarkan rambut ketika mereka
mulai membuka kitab suci. Di masyarakat umum kesantunan pakaian itu pun masih
banyak di ekspresikan dengan kain tembus pandang, terwang atau brokat berongga
rongga tanpa pelapis dan lihat artis artispapan atas indonesia yang cantik dan
cerdas pun mulai mengibaskan kain panjang sehingga citra busana muslimah pun
mulai dipenuhi cercah mewah dalam arti yang sebenarnya.
Indonesia pun jadi tidak
sungkan lagi menyelempengkan selendang sambil menyaput celah celah nya dengan
lapisan, jahitan, sampai sematan jarum pentul atau peniti, tidak saja di
halaman masjid tetapi juga di ruang arisan, jalan jalan pasar bahkan ruang
sekolah, ruang kuliah dan panggung2 pertunjukan. Beberapa aktivis perempuan
yang gerah dengan tren tutup menutup ini langsung menemukan alasan baru untuk
mengkritik dengan menuduh bahwa model busana ini adalah simbol barukemewahan
yang angkuh diantara kondisi masyarakat yang miskin padahal tidak sedikit
jumlah perempuan penggunanya yang secara suka rela tanpa banyak suara
menggalang dana atau bahkan menggerakkan tenaganya sendiri utuk memperjuangkan
nasib perempuan 2 lain yang hampir lantak di antara kaki lelaki cabul di lampu2
merah sampai kolom2 dapur.
Bagaimanapun busana
muslimah telah menjadi fenomena, jika orang2 di sini bertanya mengapa saya
berkerudung, saya tak mungkin menjawab bahwa hal itu di wajibkan islam, ini
hampir tidak ada efeknya kitalah yang mengerti dan meyakini bukan mereka jawaban
itu hanya akan menerangkan bahwa kita
adalah pemeluk yang taat. Lantas ketaatan kita apa artinya buat mereka? Bagi
mereka, saya biasanya menjawab paling tidak baju ini melindungi saya dari terik
matahari ketika musim panas, dan udara dingin ketika musim salju, jawaban yang
mungkin memang terlalu sederhana tetapi bagi orang yang sudah banyak menderita
kanker kulit akibat sengatan matahari jawaban itu amat berarti. Sambil
menampakkan kulit tangan yang pucat berbecak dan hidung mancungnya yang jingga
terbakar, seorang pernah berkata kepada saya kamu perempuan pintar mengapa
tidak kau pakai cadar? Lihat kulit saya orang2 seperti kamu pasti tidak pernah
punya masalahseperti saya boleh tahu, seberapa panjang rambutmu? Dan saya
menjawab agak diplomatis, tebak saja biasanya perempuan muslimah memelihara
rambutnya. Tidak kah kau ingin menampakkan keindahan rambutmu kpada orang lain?
Dan saya tertawa hahaha,,, RAMBUT SAYA HANYA UNTUK DILIHAT OLEH KELUARGA DAN
TERUTAMA OLEH SUAMI SAYA. Jadi rambut adalah sesuatu yang sakral buat perempuan
muslim ya? Komentar simpatiknya mengingatkan saya kepada kata-kata muhammad
zuhri, hijab itu seperti kaca mata ia menutup yang harus di tutup yakni bola
mata yang lemah tetapi memperjelas yang harus di perjelas yakni obyek pandangan,
ia menutup daya tarik fisikal perempuan supaya tidak memperdaya dan terangkat
nilai nya, dan memperjelas potensi perempuan yang seharusnya memang tersiar
yakni keanggunan kepribadian dan kecerdasannya, dan kuturnkan kain bagi
keberadaanku makna nya adalah cinta. Cinta ketaatan kepadaNYA cinta
penyelamatan bagi makhluk-makhluknya dan cinta bagi seorang saja yang paling
berhak untuk membuka nya.
Wassalam…..
Hisbiyah muhibbah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar