Jumat, 22 Agustus 2014

Pentingnya Berhijab

DAN KU TURUNKAN KAIN……
Dan ku turunkan kain ke dada ku, ku turunkan dia supaya  ikut tunduk pandanganku. Ku turunkan kain dari ubun ubun menyungkup rambutku, supaya terlindung dan selamat aku dari terik matahari ketika kerontang, pedih musim ketika dingin, serta geraian panas mata dan tangan orang orang berhati lemah yang berkeliaran sepanjang jalan. Ku turunkan kain sekujur tubuh ku supaya terjaga aku, tidak saja dari gangguan orang orang yang ku temui tetapi juga dari godaan dalam diriku yang ingin bertingkah. Kain ini menyelamatkan aku serta orang orang di sekililingku dari daya tarik ke perempuanku yang mungkin menipu dan kain panjang ini menjadi kulitku, diriku, identitasku. Tidak lagi bisa kulepas dia apalagi ku biarkan dia direnggut dari diriku, dengan kain ini aku berkata tidak kepada masa lalu yang lemah kepada hubungan sosial yang eksploitatif serta struktur ekonomi sosial dan politikyang tak adil, memperbodoh manusia dan menghancurkan dirinya sendiri.
Ku turunkan kain menutupi tubuhku supaya aku bisa mengucapkan salam kepada dunia bukan hanya dengan mulut tetapi juga dengan seluruh diri berbusana muslimah sudah nyata tersurat sebagai ketentuan yang harus di jalankan oleh seorang perempuan pemeluk islam detail bentuk bisa di tafsirkan secara beragam kitab yang jelas ia harus menutup keseluruhan penampakan tubuh perempuan kecuali wajah dan tangan.
Di indonesia pengguna busana muslimah yang demikian hanya remaja putri penghuni pesantren atau istri para kiyai, perempuan kebanyakan lain nya datang ke pengajian menyelempengkan selendang di bahu nya hanya untuk di pakai menyamarkan rambut ketika mereka mulai membuka kitab suci. Di masyarakat umum kesantunan pakaian itu pun masih banyak di ekspresikan dengan kain tembus pandang, terwang atau brokat berongga rongga tanpa pelapis dan lihat artis artispapan atas indonesia yang cantik dan cerdas pun mulai mengibaskan kain panjang sehingga citra busana muslimah pun mulai dipenuhi cercah mewah dalam arti yang sebenarnya.
Indonesia pun jadi tidak sungkan lagi menyelempengkan selendang sambil menyaput celah celah nya dengan lapisan, jahitan, sampai sematan jarum pentul atau peniti, tidak saja di halaman masjid tetapi juga di ruang arisan, jalan jalan pasar bahkan ruang sekolah, ruang kuliah dan panggung2 pertunjukan. Beberapa aktivis perempuan yang gerah dengan tren tutup menutup ini langsung menemukan alasan baru untuk mengkritik dengan menuduh bahwa model busana ini adalah simbol barukemewahan yang angkuh diantara kondisi masyarakat yang miskin padahal tidak sedikit jumlah perempuan penggunanya yang secara suka rela tanpa banyak suara menggalang dana atau bahkan menggerakkan tenaganya sendiri utuk memperjuangkan nasib perempuan 2 lain yang hampir lantak di antara kaki lelaki cabul di lampu2 merah sampai kolom2 dapur.
Bagaimanapun busana muslimah telah menjadi fenomena, jika orang2 di sini bertanya mengapa saya berkerudung, saya tak mungkin menjawab bahwa hal itu di wajibkan islam, ini hampir tidak ada efeknya kitalah yang mengerti dan meyakini bukan mereka jawaban itu hanya akan menerangkan  bahwa kita adalah pemeluk yang taat. Lantas ketaatan kita apa artinya buat mereka? Bagi mereka, saya biasanya menjawab paling tidak baju ini melindungi saya dari terik matahari ketika musim panas, dan udara dingin ketika musim salju, jawaban yang mungkin memang terlalu sederhana tetapi bagi orang yang sudah banyak menderita kanker kulit akibat sengatan matahari jawaban itu amat berarti. Sambil menampakkan kulit tangan yang pucat berbecak dan hidung mancungnya yang jingga terbakar, seorang pernah berkata kepada saya kamu perempuan pintar mengapa tidak kau pakai cadar? Lihat kulit saya orang2 seperti kamu pasti tidak pernah punya masalahseperti saya boleh tahu, seberapa panjang rambutmu? Dan saya menjawab agak diplomatis, tebak saja biasanya perempuan muslimah memelihara rambutnya. Tidak kah kau ingin menampakkan keindahan rambutmu kpada orang lain? Dan saya tertawa hahaha,,, RAMBUT SAYA HANYA UNTUK DILIHAT OLEH KELUARGA DAN TERUTAMA OLEH SUAMI SAYA. Jadi rambut adalah sesuatu yang sakral buat perempuan muslim ya? Komentar simpatiknya mengingatkan saya kepada kata-kata muhammad zuhri, hijab itu seperti kaca mata ia menutup yang harus di tutup yakni bola mata yang lemah tetapi memperjelas yang harus di perjelas yakni obyek pandangan, ia menutup daya tarik fisikal perempuan supaya tidak memperdaya dan terangkat nilai nya, dan memperjelas potensi perempuan yang seharusnya memang tersiar yakni keanggunan kepribadian dan kecerdasannya, dan kuturnkan kain bagi keberadaanku makna nya adalah cinta. Cinta ketaatan kepadaNYA cinta penyelamatan bagi makhluk-makhluknya dan cinta bagi seorang saja yang paling berhak untuk membuka nya.

Wassalam…..

Hisbiyah muhibbah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar